Terus terang, saya tidak pernah sepenasaran ini ketika ingin melakukan wisata tempat. Sebelum-sebelumnya, saya cenderung mengajak kerabat atau seseorang untuk menikmati petualangan wisata bersama. Namun, karena sudah benar-benar ingin mengunjungi Erevelden Menteng Pulo, melesatlah saya seorang diri ditengah cuaca panas terik yang mendadak kunjung di musim hujan ini.

Ereveld diambil dari bahasa Belanda yang berarti “ladang kehormatan”. Tidaklah heran jika kata tersebut menggambarkan tempat yang penuh dengan nisan, terlebih spefisiknya, kuburan para orang yang mengorbankan nyawa pada zaman perang terjadi. Ereveld merupakan pemakaman belanda yang dikhususkan untuk para prajurit dan warga Belanda serta orang-orang Indonesia dan Jepang yang gugur pada zaman perang dunia ke-2.

Jakarta War Cemetery (Foto: Dok. Nathanael Ricardo)

Jika boleh jujur, tempat ini bisa dibilang salah satu tempat yang paling bersih di Jakarta. Saya sendiri sempat terheran betapa terawatnya sebuah makam di kota ini. Sebuah tempat yang menurut saya pribadi sangat cocok jika ingin melarikan diri dari keramaian dan kepadatan kota Jakarta yang sibuk.

Dibalik bersihnya nisan, tanaman-tanaman dan bangunan kuno yang berdiri di daerah Menteng, Jakarta ini, ada sekelompok tukang kebun yang senantiasa merawat peninggalan bersejarah ini. Saya berbincang-bincang dengan mereka dan hampir kebanyakan sudah merawat tempat ini lebih dari 20 tahun.

Gereja Belanda (Foto: Dok. Nathanael Ricardo)

Mengunjungi dan mengelilingi keseluruhan dari tempat ini juga sempat membuat saya termenung. Karena saya menyadari bahwa kita hidup di zaman yang sangat berbeda. Jika beberapa abad lalu perang menjadi sebuah keharusan untuk seseorang bertahan hidup, kini Anda dan saya hidup di zaman yang bisa dibilang juga kompleks.

Rumah Abu Jenazah (Foto: Dok. Nathanael Ricardo)

Zaman dahulu negara dan beberapa kelompok berperang antara negara dan kelompok lain dengan kondisi merebut kekuasaan secara paksa (baca: kekerasan). Anda dan saya mengalami kondisi perang yang berbeda. We experience something different but pretty similar. 

Perang yang terjadi pada zaman modern ini adalah perang untuk membuktikan diri sendiri dan orang lain tentang siapa yang lebih hebat.

Perang untuk membuktikan siapa yang lebih hebat secara individu.

Perang untuk memperlihatkan bisnis siapa yang lebih hebat sehingga membuat masyarakat membeli produknya.

Perang antar sesama, sikut-menyikut di dunia pekerjaan dan berkompetisi demi membiayai sesuap nasi.

Perang untuk mengenyangkan dan memuaskan diri sendiri. Membangun ego yang mungkin rapuh dan perlu dirawat.

Saya rasa perkembangan zaman dan nilai serta norma yang diadopsi masyarakat secara total sudah sangat mempengaruhi Anda dan saya tentang bagaimana cara memandang hidup. Perang yang saya deskripsikan di atas hanyalah salah satu dampak yang terjadi.

Jarang sekali orang berani tampil beda. Berani untuk menunjukkan dan menampilkan gaya hidup yang tidak biasa. Berani untuk berdiri di atas prinsip yang dipercayai.

Jarang sekali Anda dan saya bisa menemukan sebuah relasi, baik itu hubungan antar teman, kolega, dan pasangan yang benar-benar mengutamakan kepentingan secara bersama. Sebuah hubungan dimana rasa hormat dan peduli itu timbul tanpa embel-embel dan motif tertentu. Every people has their own intention and we can’t do shit about it.

Mengunjungi nisan dengan nuansa sunyi serta jejak peninggalan bersejarah ini membuat saya berpikir tentang hal-hal tersebut. Sebuah tempat dimana saya bisa sedikit berfilosofis ria. Pada akhirnya, hidup tetap harus berjalan. Anda dan saya tetap harus paling tidak “bertahan hidup” demi kesejahteraan semu tiada akhir.